Pendidikan Tetap Penting di Tengah Pemulihan Pascabencana
Bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Aceh tidak hanya menyisakan kerusakan fisik, tetapi juga dampak panjang terhadap aspek sosial dan psikologis masyarakat, terutama anak-anak. Di tengah situasi darurat seperti ini, perhatian sering kali terfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, dan papan. Namun, satu aspek penting yang kerap luput dari perhatian adalah keberlanjutan pendidikan anak-anak yang terdampak bencana.
Kesadaran inilah yang mendorong Taman Baca Kedaung Depok untuk mengambil peran aktif dalam membantu pemulihan pendidikan pascabencana di Aceh. Melalui kolaborasi dengan Komunitas Turun Tangan Jakarta, mereka menyalurkan donasi buku bacaan sebagai bentuk kepedulian terhadap hak anak untuk tetap belajar dan tumbuh, meskipun berada dalam kondisi sulit.
Kolaborasi Relawan untuk Hak Belajar Anak
Founder Taman Baca Kedaung Depok, Baldan Fattulah, menegaskan bahwa inisiatif ini lahir dari keyakinan bahwa pendidikan merupakan kebutuhan mendasar yang tidak boleh terputus, bahkan dalam situasi darurat sekalipun. Menurutnya, pemulihan pascabencana seharusnya tidak hanya berorientasi pada pembangunan kembali infrastruktur fisik, tetapi juga pada pemulihan mental, emosional, dan intelektual anak-anak.
“Inisiatif ini menjadi pengingat bahwa proses pemulihan pascabencana harus melihat anak secara utuh. Anak-anak membutuhkan ruang belajar yang aman, harapan, dan aktivitas positif agar mereka tidak larut dalam trauma,” ujar Baldan.
Kolaborasi dengan Komunitas Turun Tangan Jakarta memungkinkan distribusi donasi dilakukan secara lebih terorganisir dan tepat sasaran. Buku-buku yang dikirimkan dipilih dengan mempertimbangkan usia dan kebutuhan anak-anak, mulai dari buku cerita, bacaan edukatif, hingga buku yang mendorong imajinasi dan kreativitas.
Buku sebagai Sarana Pemulihan Psikososial
Lebih dari sekadar media belajar, buku memiliki peran penting dalam proses pemulihan psikososial anak pascabencana. Aktivitas membaca dapat menjadi sarana distraksi positif dari pengalaman traumatis, sekaligus membantu anak mengekspresikan emosi dan membangun kembali rasa aman.
Baldan menjelaskan bahwa buku mampu menghadirkan dunia baru bagi anak-anak yang tengah berada dalam situasi penuh keterbatasan. Cerita-cerita di dalam buku dapat menumbuhkan harapan, memberikan hiburan yang sehat, serta mengembalikan rutinitas belajar yang sempat terhenti.
“Buku bisa menjadi teman yang menenangkan. Di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih, membaca dapat membantu anak-anak kembali tersenyum dan bermimpi,” tuturnya.
Pendekatan ini sejalan dengan berbagai kajian psikologi anak yang menyebutkan bahwa aktivitas literasi berperan penting dalam membantu anak memproses trauma dan membangun resiliensi.
Menjaga Akses Pendidikan di Situasi Darurat
Akses terhadap pendidikan merupakan hak dasar anak yang dilindungi oleh undang-undang. Namun, dalam kondisi pascabencana, hak tersebut sering kali terancam akibat rusaknya fasilitas pendidikan, keterbatasan sarana belajar, serta kondisi psikologis anak yang terguncang.
Melalui donasi buku ini, Taman Baca Kedaung Depok berupaya menjaga kesinambungan proses belajar anak-anak Aceh, meskipun dalam bentuk yang sederhana. Baldan menyadari bahwa bantuan yang diberikan mungkin tidak langsung menyelesaikan seluruh permasalahan, namun setidaknya dapat menjadi titik awal untuk membangun kembali semangat belajar.
“Mungkin ini yang baru bisa kami berikan sesuai kemampuan. Namun kami percaya, setiap buku yang sampai ke tangan anak-anak bisa memberi dampak besar bagi masa depan mereka,” ucapnya.
Solidaritas Antarwilayah untuk Masa Depan Anak Bangsa
Aksi ini juga mencerminkan kuatnya solidaritas antarwilayah di Indonesia. Meski berada di kota yang berbeda, kepedulian terhadap masa depan anak-anak Aceh menjadi penggerak utama kolaborasi ini. Taman Baca Kedaung Depok berharap kegiatan tersebut dapat menginspirasi komunitas lain untuk turut berkontribusi sesuai kapasitas masing-masing.
Menurut Baldan, pemulihan pascabencana adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah atau lembaga kemanusiaan. Peran komunitas, relawan, dan masyarakat sipil sangat penting dalam memastikan anak-anak tidak kehilangan kesempatan untuk berkembang.
“Kami selalu berdoa agar anak-anak Aceh dapat bangkit, tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara mental dan emosional. Semoga buku-buku ini bisa menjadi penyemangat mereka untuk terus belajar dan bermimpi,” tandasnya.
Harapan untuk Keberlanjutan Program Literasi
Ke depan, Taman Baca Kedaung Depok berharap kegiatan serupa dapat dilakukan secara berkelanjutan, tidak hanya dalam konteks pascabencana, tetapi juga untuk daerah-daerah yang memiliki keterbatasan akses literasi. Donasi buku ini diharapkan menjadi langkah kecil namun bermakna dalam memperkuat budaya membaca dan pendidikan inklusif di Indonesia.
Melalui gerakan sederhana seperti ini, pesan yang ingin disampaikan jelas: di tengah keterbatasan dan krisis, pendidikan tetap menjadi cahaya harapan bagi generasi penerus. Anak-anak berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar, tumbuh, dan meraih masa depan yang lebih baik, apa pun kondisi yang mereka hadapi hari ini.
Baca Juga : Pengembalian Barang Bukti Tilang Depok Periode 2023 Dibuka
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : rumahjurnal

