Dari Noriega ke Maduro, AS Ulang Sejarah Penangkapan Pemimpin Amerika Latin 36 Tahun Silam
Sabtu dini hari, 3 Januari 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan klaim yang mengguncang dunia: Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya disebut telah ditangkap dalam sebuah operasi militer Amerika Serikat. Pernyataan ini segera memicu gelombang reaksi internasional, bukan hanya karena implikasi hukumnya, tetapi juga karena gema sejarah yang terasa begitu kuat.
Tanggal tersebut membawa ingatan ke sebuah peristiwa 36 tahun silam. Pada 3 Januari 1990, pasukan Amerika Serikat menangkap Manuel Noriega, pemimpin Panama yang selama bertahun-tahun sebelumnya justru merupakan sekutu dekat Washington. Kebetulan tanggal ini sulit diabaikan, karena menghadirkan pertanyaan besar: apakah Amerika Serikat tengah mengulang pola lama dalam memperlakukan pemimpin Amerika Latin yang tak lagi sejalan dengan kepentingannya?
Noriega: Dari Sekutu CIA Menjadi Musuh Negara
Kisah Manuel Noriega adalah contoh klasik bagaimana hubungan Amerika Serikat dengan pemimpin kawasan Amerika Latin kerap berubah drastis. Noriega lahir dari lingkungan miskin di Panama City dan perlahan menapaki tangga kekuasaan melalui militer. Kariernya melesat ketika ia menjadi orang kepercayaan Jenderal Omar Torrijos, pemimpin Panama yang berkuasa sejak kudeta 1968.
Pada era 1970–1980-an, Noriega dikenal luas sebagai mitra penting Central Intelligence Agency (CIA). Ia menerima bayaran ratusan ribu dolar untuk membantu kepentingan Amerika Serikat, mulai dari memerangi narkotika hingga menjadi penghubung politik di kawasan. Bahkan, Noriega disebut memainkan peran strategis sebagai jembatan komunikasi tidak langsung antara Washington dan Fidel Castro di Kuba.
Selama ia patuh dan berguna, Washington menutup mata terhadap berbagai praktik otoriternya. Namun, hubungan tersebut berubah ketika Noriega mulai menuntut kemandirian politik yang lebih besar dan tidak lagi sepenuhnya mengikuti garis kebijakan AS.
Invasi Panama 1989: Titik Balik Sejarah
Hubungan Noriega dengan Washington runtuh total pada akhir 1980-an. Ia dituduh menerima suap dari kartel narkoba dan membiarkan Panama menjadi jalur utama penyelundupan kokain ke Amerika Serikat. Tuduhan ini menjadi dasar legitimasi moral bagi AS untuk bertindak.
Pada Desember 1989, Presiden George H. W. Bush memerintahkan invasi militer ke Panama. Sebanyak 24.000 tentara AS dikerahkan dalam operasi yang menjadi intervensi tempur terbesar sejak Perang Vietnam. Operasi tersebut menewaskan puluhan tentara AS dan menyebabkan korban sipil Panama dalam jumlah signifikan, meski angka pastinya masih diperdebatkan hingga kini.
Noriega sempat melarikan diri dan bersembunyi di Kedutaan Vatikan sebelum akhirnya menyerahkan diri pada 3 Januari 1990. Ia kemudian diterbangkan ke Amerika Serikat untuk diadili, sebuah langkah yang saat itu juga menuai kritik tajam dari komunitas internasional.
Hukuman Panjang dan Akhir Kekuasaan
Kejatuhan Noriega menandai berakhirnya rezim militer di Panama. Ia dijatuhi hukuman 20 tahun penjara di AS atas dakwaan perdagangan narkoba. Setelah itu, hidupnya berpindah-pindah dari satu sistem hukum ke sistem hukum lain: diekstradisi ke Prancis pada 2010 untuk kasus pencucian uang, lalu dipulangkan ke Panama untuk menjalani hukuman tambahan atas pembunuhan dan korupsi.
Bagi Amerika Serikat, kasus Noriega kerap dijadikan contoh “keberhasilan” menegakkan hukum internasional versi mereka. Namun bagi banyak negara Amerika Latin, peristiwa itu justru menjadi simbol bagaimana hukum sering kali tunduk pada kekuatan militer dan kepentingan geopolitik.
Maduro dan Venezuela: Pola yang Terasa Familiar
Klaim penangkapan Nicolas Maduro membawa kembali memori pahit tersebut. Seperti Noriega, Maduro adalah pemimpin yang berulang kali dituduh terlibat dalam narkotika, pelanggaran HAM, dan perusakan demokrasi. AS bahkan telah lama menetapkan hadiah bagi informasi yang mengarah pada penangkapannya.
Namun, perbedaannya tak kalah penting. Maduro bukan mantan sekutu CIA, dan Venezuela saat ini merupakan simbol perlawanan terhadap hegemoni AS di Amerika Latin. Negara ini juga memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, menjadikannya aset geopolitik strategis.
Di mata banyak pengamat, klaim Trump bukan sekadar penegakan hukum, melainkan sinyal bahwa Washington siap kembali menggunakan pendekatan keras di kawasan yang selama ini dianggap sebagai “halaman belakang” Amerika Serikat.
Hukum Internasional vs Kekuasaan Global
Baik dalam kasus Noriega maupun Maduro, muncul pertanyaan mendasar: sejauh mana sebuah negara berhak menangkap kepala negara asing? Dalam hukum internasional, kepala negara berdaulat memiliki kekebalan yurisdiksi. Penangkapan sepihak oleh negara lain, apalagi melalui kekuatan militer, dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan.
Namun sejarah menunjukkan bahwa norma ini sering kali runtuh di hadapan kepentingan negara adikuasa. Amerika Serikat berulang kali menggunakan alasan narkotika, terorisme, atau perlindungan demokrasi untuk membenarkan intervensi.
Amerika Latin dan Trauma Kolektif
Bagi Amerika Latin, peristiwa semacam ini bukan sekadar isu diplomatik, melainkan trauma sejarah. Dari Guatemala, Chile, Panama, hingga Venezuela, kawasan ini memiliki rekam jejak panjang intervensi AS yang meninggalkan luka sosial dan politik mendalam.
Penangkapan Noriega menjadi simbol era ketika pemimpin yang tak lagi patuh dapat dengan cepat berubah status dari “mitra strategis” menjadi “penjahat internasional”.
Penutup
Dari Manuel Noriega hingga Nicolas Maduro, sejarah menunjukkan pola yang sulit diabaikan: Amerika Serikat kerap menempatkan dirinya sebagai hakim sekaligus eksekutor di Amerika Latin. Klaim penangkapan Maduro pada 2026 menghidupkan kembali pertanyaan lama tentang batas kekuasaan global, kedaulatan negara, dan masa depan hukum internasional.
Apakah dunia kini akan menyaksikan pengulangan sejarah, atau justru lahir perlawanan baru terhadap dominasi lama? Jawabannya masih terbuka, tetapi satu hal jelas: Amerika Latin kembali berada di pusat pusaran geopolitik dunia.
Baca Juga : Trump Klaim AS Kuasai Minyak Venezuela Usai Tangkap Maduro
Cek Juga Artikel Dari Platform : footballinfo

