revisednews.com Bencana tanah longsor kembali mengguncang wilayah Bandung Barat dan menimbulkan duka mendalam bagi masyarakat. Peristiwa ini menyebabkan delapan orang dinyatakan meninggal dunia, sementara puluhan lainnya masih dinyatakan hilang dan terus dicari oleh tim penyelamat.
Material longsoran yang sangat besar menimbun permukiman warga di kawasan lereng, memutus akses jalan, serta menyulitkan proses evakuasi. Hingga saat ini, tim gabungan masih berjibaku melakukan pencarian meski menghadapi tantangan cuaca dan kondisi medan yang berat.
Longsor Terjadi Saat Warga Terlelap
Longsor terjadi pada dini hari ketika sebagian besar warga tengah beristirahat. Kondisi tersebut menyebabkan banyak korban tidak sempat menyelamatkan diri. Material tanah, batu, dan lumpur bergerak cepat dari lereng perbukitan dan menghantam rumah-rumah warga.
Wilayah terdampak berada di Kecamatan Cisarua, tepatnya di Desa Pasir Langu, Kampung Babakan Cibudah. Lokasi ini dikenal memiliki kontur tanah curam dan rawan pergerakan tanah, terutama saat hujan deras berlangsung dalam waktu lama.
Suara gemuruh longsor membangunkan sebagian warga, namun banyak di antaranya tidak sempat keluar rumah sebelum tertimbun material.
Korban Jiwa dan Warga Selamat
Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat delapan orang meninggal dunia akibat tertimbun longsoran. Selain itu, sebanyak 23 warga berhasil ditemukan dalam kondisi selamat.
Para korban selamat langsung dievakuasi ke posko darurat untuk mendapatkan perawatan medis dan pendampingan psikologis. Beberapa di antaranya mengalami luka ringan hingga trauma berat akibat kejadian mendadak tersebut.
Sementara itu, sebanyak 82 orang masih dinyatakan hilang dan menjadi fokus utama pencarian.
Ratusan Warga Terdampak
Bencana longsor ini berdampak terhadap sekitar 34 kepala keluarga atau lebih dari seratus jiwa. Banyak rumah warga mengalami rusak berat bahkan hilang tertimbun tanah.
Petugas masih terus melakukan pendataan lanjutan untuk memastikan jumlah bangunan terdampak serta kebutuhan logistik masyarakat. Sejumlah warga terpaksa mengungsi karena rumah mereka berada di zona rawan longsor susulan.
Posko pengungsian didirikan untuk menampung warga dengan fasilitas dasar seperti makanan, air bersih, selimut, dan layanan kesehatan.
Tim Gabungan Dikerahkan
Proses pencarian melibatkan tim gabungan dari BNPB, Basarnas, TNI, Polri, BPBD daerah, relawan, serta masyarakat setempat. Alat berat dikerahkan untuk membantu membuka akses dan mengangkat material longsoran.
Namun, penggunaan alat berat dilakukan secara hati-hati karena dikhawatirkan dapat memicu longsor susulan. Di beberapa titik, pencarian masih dilakukan secara manual menggunakan cangkul dan alat sederhana.
Petugas juga menggunakan anjing pelacak untuk membantu menemukan korban yang tertimbun.
Kendala Cuaca dan Medan
Proses pencarian tidak berjalan mudah. Curah hujan yang masih tinggi menjadi kendala utama karena meningkatkan risiko longsor lanjutan. Selain itu, medan yang curam dan licin membuat pergerakan tim penyelamat sangat terbatas.
Akses menuju lokasi sempat terputus akibat tertimbun material tanah. Upaya pembukaan jalur terus dilakukan agar bantuan logistik dan alat berat dapat masuk dengan aman.
Petugas juga harus menghentikan sementara pencarian ketika hujan turun demi keselamatan tim.
Peringatan Bahaya Longsor Susulan
BNPB mengingatkan masyarakat di sekitar lokasi untuk tetap waspada. Wilayah tersebut masih berpotensi mengalami longsor susulan mengingat kondisi tanah yang labil dan curah hujan yang belum sepenuhnya reda.
Warga yang tinggal di lereng perbukitan diminta mengungsi sementara hingga situasi dinyatakan aman. Pemerintah daerah bersama aparat setempat terus melakukan patroli dan pemantauan kondisi tanah.
Langkah ini dilakukan untuk mencegah bertambahnya korban jiwa.
Dukungan Logistik dan Kesehatan
Pemerintah pusat dan daerah menyalurkan bantuan logistik darurat berupa makanan siap saji, air minum, tenda pengungsian, serta perlengkapan bayi dan lansia.
Layanan kesehatan juga disiagakan untuk menangani korban luka maupun warga yang mengalami gangguan psikologis akibat trauma bencana.
Pendampingan psikososial diberikan terutama kepada anak-anak dan keluarga korban meninggal.
Evaluasi Tata Ruang dan Mitigasi
Peristiwa longsor ini kembali membuka pentingnya evaluasi tata ruang di wilayah rawan bencana. Permukiman yang berada di lereng curam menjadi sangat rentan, terutama saat musim hujan dengan intensitas tinggi.
Pemerintah didorong untuk memperkuat sistem mitigasi, termasuk pemasangan alat pemantau pergerakan tanah, edukasi kebencanaan, serta penataan ulang kawasan berisiko tinggi.
Mitigasi jangka panjang dinilai penting agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Solidaritas dan Gotong Royong
Di tengah duka, solidaritas masyarakat terlihat kuat. Warga sekitar turut membantu tim penyelamat, menyediakan makanan, serta membantu pengungsian korban.
Relawan dari berbagai daerah juga berdatangan untuk membantu proses evakuasi dan distribusi bantuan. Semangat gotong royong menjadi kekuatan penting dalam menghadapi bencana ini.
Kebersamaan tersebut diharapkan dapat mempercepat proses pemulihan.
Penutup
Bencana longsor di Bandung Barat menjadi tragedi kemanusiaan yang menyisakan duka mendalam. Delapan korban meninggal dunia telah ditemukan, sementara puluhan lainnya masih dalam pencarian intensif oleh tim gabungan.
Upaya penyelamatan terus dilakukan dengan harapan seluruh korban dapat segera ditemukan. Peristiwa ini menjadi pengingat penting akan risiko bencana alam di wilayah rawan dan pentingnya kesiapsiagaan bersama.
Pemerintah dan masyarakat diharapkan dapat mengambil pelajaran besar untuk memperkuat mitigasi dan melindungi keselamatan warga di masa mendatang.

Cek Juga Artikel Dari Platform bengkelpintar.org
