DWP Kota Yogyakarta Gaungkan Pangan Lokal Lewat Lomba Tumpeng Jajanan Tradisional

Nasional

revisednews.com Suasana Balai Kota Yogyakarta sejak pagi hari dipenuhi keceriaan dan semangat kebersamaan. Ratusan anggota Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kota Yogyakarta berkumpul untuk mengikuti rangkaian kegiatan dalam memperingati Hari Ulang Tahun ke-26 DWP.

Kegiatan tersebut meliputi Senam Massal, Bazar dan Pasar Murah, serta Lomba Kreasi Tumpeng Jajanan Tradisional. Acara ini menjadi wujud nyata sinergi antara pemerintah daerah dan organisasi perempuan dalam mendorong pelestarian budaya lokal serta pemberdayaan ekonomi keluarga.

Ketua DWP Kota Yogyakarta, Dian Aman Yuriadijaya, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar hiburan, melainkan sarana memperkuat peran perempuan sebagai agen perubahan di masyarakat. “Agenda hari ini adalah ajang kebersamaan yang memperkuat semangat perempuan yang cerdas, sehat, dan kreatif,” ujarnya.


Perempuan Cerdas untuk Indonesia Emas 2045

Peringatan tahun ini mengusung tema nasional “Peran Dharma Wanita dalam Membangun Perempuan yang Smart Menuju Indonesia Emas 2045.” Tema tersebut mencerminkan komitmen DWP untuk memperkuat kapasitas dan kemandirian perempuan di berbagai bidang, mulai dari keluarga, pendidikan, hingga ekonomi kreatif.

Menurut Dian, perempuan memiliki peran sentral dalam menciptakan generasi unggul. Dengan kemampuan intelektual dan ketangguhan mental, perempuan dapat menjadi motor penggerak pembangunan. Ia menekankan pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan, literasi digital, serta keterampilan ekonomi rumah tangga agar perempuan tidak tertinggal dalam era modern.

“Perempuan yang smart adalah mereka yang mampu menyeimbangkan peran domestik dan publik. Mereka tidak hanya mengurus keluarga, tetapi juga berkontribusi bagi masyarakat dan negara,” tambah Dian.


Pelestarian Jajanan Tradisional Lewat Lomba Tumpeng

Salah satu kegiatan paling menarik dalam acara ini adalah Lomba Kreasi Tumpeng Jajanan Tradisional. Puluhan kelompok dari berbagai satuan kerja perangkat daerah (SKPD) dan perwakilan kecamatan berlomba menampilkan hasil karya terbaik mereka.

Setiap tumpeng dibuat dari bahan pangan lokal seperti ketan, singkong, jagung, dan pisang, yang disusun artistik menyerupai gunungan. Hiasan daun pisang, anyaman bambu, dan bunga kertas turut mempercantik tampilan. Tidak hanya rasa, tetapi juga makna filosofis menjadi unsur penting dalam penilaian.

Menurut panitia, tujuan utama lomba ini adalah menumbuhkan kembali kecintaan terhadap pangan lokal dan jajanan tradisional yang mulai tergerus oleh tren modern. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ruang ekspresi kreativitas bagi perempuan Yogyakarta dalam mengolah bahan sederhana menjadi karya yang indah dan bernilai ekonomi.

“Setiap tumpeng memiliki cerita dan filosofi. Ada yang menggambarkan harmoni keluarga, ada pula yang melambangkan doa untuk kesejahteraan. Semua peserta berusaha menampilkan keunikan daerah masing-masing,” ujar salah satu juri lomba.


Bazar dan Pasar Murah Dukung UMKM Perempuan

Selain lomba, kegiatan bazar dan pasar murah menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat yang hadir. Puluhan stan memamerkan produk unggulan hasil karya anggota DWP, mulai dari makanan olahan tradisional, batik, kerajinan tangan, hingga produk kecantikan alami berbasis herbal.

Bazar ini bukan hanya wadah promosi, tetapi juga upaya konkret dalam mendorong pemberdayaan ekonomi perempuan. Melalui kegiatan ini, DWP Kota Yogyakarta ingin membuktikan bahwa perempuan memiliki potensi besar dalam mengembangkan usaha kecil dan menengah (UMKM).

Salah satu peserta bazar, Sulastri, anggota DWP dari Kecamatan Umbulharjo, mengaku bangga bisa ikut berpartisipasi. “Kami membawa aneka jajanan khas Yogyakarta seperti cenil, lupis, dan tiwul. Selain menjual, kami juga belajar cara mengemas produk agar lebih menarik. DWP benar-benar memberi ruang bagi kami untuk berkembang,” ungkapnya.


Membangun Solidaritas dan Kepedulian Sosial

Kegiatan ini juga menjadi ajang mempererat solidaritas antaranggota DWP. Suasana kekeluargaan sangat terasa ketika para peserta saling mendukung, berbagi ide, dan tertawa bersama selama lomba berlangsung. Panitia juga menggelar doorprize dan hiburan rakyat sebagai penutup acara.

Tak hanya itu, sebagian hasil penjualan bazar disalurkan untuk kegiatan sosial, seperti bantuan kepada panti asuhan dan program pendidikan anak kurang mampu. Hal ini menunjukkan bahwa DWP tidak hanya fokus pada kegiatan internal, tetapi juga memiliki kepedulian tinggi terhadap masyarakat luas.

Ketua panitia menyebutkan bahwa semangat gotong royong menjadi kunci keberhasilan kegiatan ini. “Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama semua pihak, mulai dari pengurus DWP, anggota, hingga dukungan Pemerintah Kota Yogyakarta. Ini adalah bukti nyata semangat kebersamaan perempuan Yogya,” ujarnya.


Menjaga Nilai Tradisi di Tengah Modernisasi

Melalui kegiatan seperti ini, DWP Kota Yogyakarta berupaya menjaga nilai-nilai budaya yang menjadi identitas daerah. Di tengah gempuran kuliner modern, tumpeng jajanan tradisional menjadi simbol kekayaan kuliner Nusantara yang tidak boleh dilupakan.

Selain memupuk rasa bangga terhadap budaya lokal, kegiatan ini juga mengajarkan pentingnya pola makan sehat berbasis bahan alami. Pangan lokal seperti singkong, jagung, dan ketan tidak hanya bergizi tinggi, tetapi juga mudah didapatkan dan ramah lingkungan.

Dian Aman Yuriadijaya menegaskan bahwa DWP akan terus berinovasi dalam mengembangkan program yang relevan dengan kebutuhan zaman, tanpa meninggalkan akar budaya. “Kami ingin DWP menjadi organisasi perempuan yang adaptif terhadap perubahan, tapi tetap menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi dan kebersamaan,” tuturnya.


Refleksi dan Harapan ke Depan

Acara peringatan ini tidak hanya menjadi ajang selebrasi, tetapi juga refleksi terhadap perjalanan DWP selama lebih dari dua dekade. Dari tahun ke tahun, DWP telah menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun kesejahteraan keluarga dan meningkatkan kualitas perempuan Indonesia.

Melalui semangat yang ditunjukkan dalam lomba tumpeng jajanan tradisional dan bazar produk lokal, DWP Kota Yogyakarta ingin menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan, edukatif, dan berdampak sosial.

Kegiatan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi organisasi perempuan lain di Indonesia untuk terus berkarya, berinovasi, dan menjaga warisan budaya bangsa, sekaligus memperkuat posisi perempuan sebagai pelaku utama dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Cek Juga Artikel Dari Platform kabarsantai.web.id