revisednews.com Program Training of Trainers (TOT) Moderasi Beragama kembali memasuki fase penting. Pada hari keempat, kegiatan ini menghadirkan pemateri nasional, Prof. Dr. H. M. Ali Ramdhani, S.TP., MT., yang merupakan salah satu tokoh penting dalam penguatan moderasi beragama di tingkat nasional. TOT ini diikuti oleh tiga puluh dosen dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan dilaksanakan di lingkungan akademik yang mendukung suasana pembelajaran intensif.
Kegiatan tersebut dirancang untuk memperkuat pemahaman para dosen mengenai moderasi beragama. Melalui TOT ini, peserta diharapkan mampu menjadi penggerak sekaligus penyebar nilai moderat dalam kehidupan kampus maupun di tengah masyarakat. Nilai moderasi tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga dilatih untuk diimplementasikan dalam konteks sosial yang lebih luas.
Makna Moderasi Beragama Menurut Prof. Ali Ramdhani
Dalam pemaparannya, Prof. Ali Ramdhani menjelaskan pemahaman mendasar mengenai moderasi beragama. Menurutnya, moderasi bukan sekadar konsep tetapi merupakan cara pandang, sikap, dan praktik beragama yang menempatkan martabat kemanusiaan sebagai inti. Praktik beragama yang ideal harus membawa kedamaian, memberi manfaat, dan menjaga kehidupan yang harmonis.
Ia menegaskan bahwa moderasi beragama tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran agama, tetapi untuk menempatkan ajaran tersebut secara proporsional dalam kehidupan berbangsa. Dengan demikian, nilai-nilai kemanusiaan, seperti keadilan dan keberimbangan, tetap menjadi pijakan utama. Sikap beragama yang berlebihan, baik ekstrem kanan maupun ekstrem kiri, dapat memicu konflik dan mengganggu harmoni sosial.
Menurut Prof. Ramdhani, konsep moderasi ini merujuk pada prinsip adil, berimbang, serta taat pada konstitusi. Semua itu menjadi kesepakatan bernegara yang harus dipegang bersama oleh masyarakat Indonesia. Keragaman suku, agama, dan budaya harus dikelola dengan cara bijaksana, bukan diseragamkan ataupun dipertentangkan.
Moderasi sebagai Pondasi Kehidupan Kebangsaan
Moderasi beragama juga dipandang sebagai fondasi penting dalam menjaga keutuhan negara. Indonesia memiliki sejarah panjang yang menunjukkan bahwa perbedaan tidak selalu menjadi hambatan, tetapi justru kekuatan. Ketika setiap warga negara mampu bersikap moderat, konflik dapat diminimalkan dan semangat persatuan semakin kuat.
Prof. Ramdhani mencontohkan bahwa penguatan moderasi harus dimulai dari lingkungan terdekat. Kampus menjadi tempat strategis karena banyak melibatkan generasi muda yang sedang membentuk cara pandang hidup. Melalui para dosen, nilai ini dapat ditanamkan secara konsisten agar mahasiswa tumbuh sebagai individu yang terbuka, toleran, dan mampu menghargai keberagaman.
Konteks Keindonesiaan dalam Moderasi
Indonesia adalah negara yang majemuk. Kondisi ini menuntut kemampuan setiap warga untuk menempatkan ajaran agama secara seimbang dengan komitmen kebangsaan. Ketika masyarakat mampu menjaga kedua hal itu secara harmonis, kehidupan nasional akan lebih stabil. Sebaliknya, ketidakseimbangan dapat melahirkan sikap intoleran yang berbahaya.
Dalam konteks ini, Prof. Ramdhani menekankan bahwa moderasi beragama merupakan jalan tengah. Jalan ini tidak menghilangkan identitas keagamaan, tetapi juga tidak menafikan komitmen terhadap negara. Kesetiaan pada ajaran agama justru menjadi lebih bermakna jika mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat luas.
Membangun Sikap Adil dan Berimbang
Prinsip keadilan menjadi pondasi utama dalam moderasi. Dalam kehidupan beragama, keadilan berarti menempatkan segala sesuatu pada posisi yang tepat. Tidak boleh ada pemaksaan kehendak terhadap kelompok lain, dan tidak boleh ada dominasi yang membuat kelompok tertentu kehilangan haknya.
Sementara itu, prinsip berimbang mengajarkan bahwa setiap tindakan harus mempertimbangkan dampaknya bagi diri sendiri, orang lain, serta masyarakat. Sikap yang terlalu keras atau terlalu longgar sama-sama tidak sehat. Keduanya dapat menimbulkan jarak dan berpotensi memicu konflik sosial.
Konstitusi juga merupakan rambu penting yang harus ditaati. Menurut Prof. Ramdhani, taat pada konstitusi tidak berarti mengabaikan ajaran agama, tetapi memahami bahwa kehidupan bernegara membutuhkan aturan yang berlaku bagi semua warga tanpa kecuali.
Peran Dosen sebagai Agen Moderasi
Dosen memiliki posisi strategis dalam menyebarkan nilai moderasi. Mereka berinteraksi langsung dengan mahasiswa setiap hari. Pengaruhnya besar, tidak hanya dalam aspek akademik tetapi juga dalam pembentukan karakter.
Melalui TOT ini, para dosen dibekali berbagai pendekatan untuk mengintegrasikan nilai moderasi ke dalam proses pembelajaran. Nilai-nilai tersebut dapat dimasukkan dalam metode diskusi, penugasan, maupun dinamika kelas lainnya. Tujuannya agar mahasiswa mampu mempraktikkan sikap moderat dalam kehidupan nyata.
Selain itu, dosen juga diajak untuk menjadi teladan. Keteladanan inilah yang sering kali menjadi faktor paling efektif dalam membentuk karakter mahasiswa. Sikap moderat yang ditunjukkan secara nyata akan lebih mudah diterima dan ditiru.
Inklusivitas sebagai Kunci Keharmonisan
Inklusivitas menjadi pesan penting dalam materi Prof. Ali Ramdhani. Ia menjelaskan bahwa masyarakat yang inklusif akan lebih mampu mengelola perbedaan. Setiap orang dihargai, bukan dihakimi. Setiap pandangan diterima, bukan ditolak mentah-mentah.
TOT Moderasi Beragama mengajarkan bahwa inklusivitas bukan berarti menerima semua hal tanpa batas, tetapi membuka ruang dialog yang sehat. Dialog inilah yang menjadi jembatan untuk memahami perbedaan dan menemukan titik temu.
Penutup: Moderasi sebagai Wajah Islam Indonesia
TOT Moderasi Beragama hari keempat memberi pemahaman mendalam mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara nilai agama dan kebangsaan. Materi Prof. Ali Ramdhani mengingatkan bahwa moderasi bukan hanya konsep, melainkan pedoman hidup yang relevan dengan tantangan zaman.
Dengan pemahaman yang kuat dan implementasi yang konsisten, moderasi dapat menjadi wajah Islam Indonesia yang ramah, inklusif, dan penuh kedamaian. Para dosen yang mengikuti TOT ini diharapkan dapat menjadi motor penggerak perubahan, membawa nilai moderat ke ruang-ruang kelas, serta ke tengah masyarakat yang lebih luas.

Cek Juga Artikel Dari Platform jalanjalan-indonesia.com
