revisednews.com Sebuah unggahan di media sosial Facebook beredar luas dan mengklaim bahwa Nadiem Makarim ditetapkan sebagai tersangka dalam sebuah kasus yang menyeret nama mantan Presiden Joko Widodo serta Luhut Binsar Pandjaitan. Dalam unggahan tersebut juga disebutkan adanya dugaan aliran dana triliunan rupiah.
Informasi itu dilengkapi dengan tangkapan layar yang menyerupai berita dari media daring nasional. Namun setelah ditelusuri, klaim tersebut tidak benar dan masuk kategori hoaks.
Penyebaran konten semacam ini kembali menunjukkan bagaimana manipulasi informasi di ruang digital bisa dengan mudah menyesatkan publik.
Tangkapan Layar Diduga Dimanipulasi
Unggahan yang beredar menampilkan tangkapan layar artikel dengan judul yang seolah-olah menguatkan tuduhan terhadap sejumlah tokoh. Padahal, setelah dibandingkan dengan versi asli, ditemukan perbedaan yang signifikan.
Judul dan konteks berita dalam tangkapan layar tersebut telah diubah dari artikel sebenarnya. Sumber aslinya merujuk pada pemberitaan media nasional yang tidak memuat tuduhan seperti yang disebarkan di media sosial.
Perubahan judul dan isi merupakan salah satu teknik manipulasi informasi yang kerap digunakan untuk menggiring opini publik.
Fakta: Tidak Ada Penetapan Tersangka Seperti Diklaim
Penelusuran terhadap artikel asli menunjukkan bahwa tidak ada informasi mengenai penetapan tersangka seperti yang diklaim dalam unggahan tersebut. Berita asli membahas topik yang berbeda dan tidak terkait dengan tuduhan aliran dana maupun kasus hukum yang disebutkan.
Artinya, narasi yang beredar telah mengalami perubahan konteks atau dikenal sebagai “misleading content”. Teknik ini memanfaatkan potongan informasi yang nyata, lalu menambahkan unsur baru yang tidak sesuai fakta.
Strategi seperti ini sering membuat pembaca percaya karena tampak seperti berita resmi.
Modus Manipulasi Berita di Era Digital
Kasus ini menjadi contoh bagaimana tangkapan layar berita dapat dimodifikasi. Dengan mengubah judul atau menambahkan klaim tertentu, konten hoaks terlihat meyakinkan.
Banyak pengguna media sosial tidak melakukan pengecekan ulang terhadap sumber asli. Padahal, perbedaan kecil dalam judul atau isi bisa mengubah makna secara drastis.
Disinformasi seperti ini berbahaya karena melibatkan tokoh publik dan isu sensitif. Dampaknya bisa memicu kebingungan, kemarahan, bahkan polarisasi di masyarakat.
Pentingnya Verifikasi Sebelum Membagikan Informasi
Penyebaran konten manipulatif dapat ditekan jika masyarakat lebih kritis terhadap informasi yang diterima. Salah satu langkah sederhana adalah mengecek langsung ke situs resmi media yang disebutkan.
Jika artikel tersebut benar-benar ada, maka judul dan isi aslinya akan sesuai dengan tangkapan layar. Namun dalam kasus ini, versi yang beredar berbeda dari berita yang sebenarnya dipublikasikan.
Mengecek tanggal terbit, alamat situs, serta konsistensi isi menjadi langkah penting untuk memastikan kebenaran informasi.
Hoaks dan Dampaknya terhadap Kepercayaan Publik
Disinformasi yang menyeret nama tokoh nasional bukan hanya persoalan individu. Dampaknya bisa meluas hingga merusak kepercayaan publik terhadap institusi dan media.
Ketika hoaks terus beredar tanpa klarifikasi, masyarakat bisa kehilangan kemampuan membedakan fakta dan opini. Situasi ini berpotensi melemahkan kualitas diskusi publik.
Karena itu, kerja jurnalistik berbasis verifikasi menjadi semakin penting. Media arus utama memiliki tanggung jawab untuk meluruskan informasi yang salah.
Bijak Menghadapi Informasi Viral
Konten yang viral belum tentu benar. Semakin sensasional klaimnya, semakin besar kemungkinan informasi tersebut perlu diperiksa ulang.
Pengguna media sosial diimbau untuk tidak langsung membagikan konten yang belum terverifikasi. Langkah ini penting untuk mencegah penyebaran hoaks lebih luas.
Selain itu, masyarakat juga dapat memanfaatkan platform cek fakta yang tersedia secara daring untuk memastikan kebenaran sebuah klaim.
Kesimpulan: Klaim Tersebut Adalah Hoaks
Berdasarkan penelusuran, klaim bahwa Nadiem Makarim ditetapkan sebagai tersangka karena menyeret nama tokoh lain adalah tidak benar. Tangkapan layar berita yang beredar telah dimanipulasi dengan mengubah judul dan konteks asli.
Masyarakat diharapkan lebih waspada terhadap konten yang memanfaatkan isu sensitif demi menarik perhatian. Informasi yang benar adalah hak publik, dan menjaga kualitas ruang digital menjadi tanggung jawab bersama.
Dengan literasi digital yang lebih baik, penyebaran hoaks dapat diminimalkan dan diskusi publik dapat berjalan lebih sehat.

Cek Juga Artikel Dari Platform bengkelpintar.org
