revisednews.com Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Internet kini menjadi ruang belajar, bermain, dan bersosialisasi, termasuk bagi anak-anak. Namun, di balik manfaat tersebut, terdapat berbagai risiko yang mengancam keamanan dan tumbuh kembang anak di ruang digital.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan bahwa perlindungan anak di ruang digital tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada kebijakan negara. Menurutnya, peran utama tetap berada di lingkungan keluarga, khususnya orang tua, sebagai garda terdepan dalam mendampingi anak saat berinteraksi dengan teknologi.
Peran Keluarga sebagai Benteng Pertama
Dalam pandangan Menkomdigi, keluarga merupakan ruang pertama tempat anak mengenal dunia digital. Orang tua memiliki peran strategis dalam membentuk kebiasaan anak, termasuk dalam penggunaan gawai dan internet. Tanpa pendampingan yang memadai, anak berisiko terpapar konten yang tidak sesuai dengan usia dan nilai-nilai pendidikan.
Ia menekankan bahwa sebaik apa pun kebijakan negara, pengawasan langsung dari orang tua tetap tidak tergantikan. Orang tua dianggap paling memahami karakter, kebutuhan, dan batasan anak. Oleh karena itu, literasi digital di tingkat keluarga menjadi kunci utama perlindungan anak di era teknologi.
Ruang Digital sebagai Bagian dari Kehidupan Sehari-hari
Ruang digital saat ini telah menyatu dengan aktivitas harian masyarakat. Anak-anak menggunakan internet untuk belajar, berkomunikasi, dan mencari hiburan. Kondisi ini membuat pembatasan total menjadi tidak realistis. Yang dibutuhkan adalah pendampingan dan pengaturan yang bijak.
Meutya Hafid menilai bahwa peran ibu sangat vital dalam memastikan anak mengakses ruang digital secara aman. Ibu sering kali menjadi figur utama yang mendampingi anak dalam aktivitas sehari-hari. Dengan pemahaman yang baik tentang risiko digital, ibu dapat menjadi pengarah sekaligus pelindung bagi anak.
Ancaman Nyata di Ruang Digital Anak
Berbagai ancaman mengintai anak di dunia maya. Konten pornografi, judi daring, eksploitasi seksual, hingga predator digital menjadi risiko yang nyata. Selain itu, paparan informasi yang tidak sesuai usia juga dapat memengaruhi kesehatan mental dan perkembangan psikologis anak.
Ancaman-ancaman tersebut tidak selalu terlihat secara langsung. Banyak konten berbahaya yang terselubung dalam bentuk permainan, iklan, atau media sosial. Kondisi ini membuat pendampingan orang tua menjadi semakin penting agar anak mampu mengenali dan menghindari risiko.
Regulasi Negara sebagai Lapisan Perlindungan Tambahan
Untuk memperkuat perlindungan anak, pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak, yang dikenal sebagai PP TUNAS. Regulasi ini dirancang untuk memberikan rasa aman bagi orang tua dan keluarga.
Melalui PP TUNAS, platform digital diwajibkan menerapkan pembatasan akses bagi anak-anak. Media sosial dan layanan digital lainnya harus memastikan konten yang ditampilkan sesuai dengan usia pengguna. Langkah ini menjadi bentuk kehadiran negara dalam menciptakan ruang digital yang lebih aman.
Tanggung Jawab Platform Digital
Selain keluarga dan negara, platform digital juga memiliki tanggung jawab besar. Menkomdigi menegaskan bahwa perusahaan teknologi tidak boleh hanya berorientasi pada keuntungan. Perlindungan anak harus menjadi prioritas dalam pengelolaan sistem elektronik.
Dengan adanya regulasi, platform digital dituntut untuk memperbaiki sistem moderasi konten dan fitur keamanan. Upaya ini diharapkan dapat mengurangi paparan konten negatif serta meminimalkan risiko interaksi anak dengan pihak yang tidak bertanggung jawab.
Apresiasi bagi Perempuan dan Ibu di Era Digital
Dalam peringatan Hari Ibu, Meutya Hafid juga menyampaikan apresiasi kepada para perempuan, khususnya ibu-ibu yang menjalankan peran ganda. Mereka tidak hanya mengabdi di ruang publik dan institusi negara, tetapi juga menjalankan tanggung jawab besar dalam keluarga.
Di lingkungan Kementerian Komunikasi dan Digital, banyak perempuan yang berkontribusi aktif dalam pembangunan nasional sekaligus tetap menjadi pelindung utama bagi anak-anak mereka. Peran ini dinilai sangat strategis dalam membangun generasi masa depan.
Literasi Digital sebagai Kunci Jangka Panjang
Menkomdigi menekankan pentingnya literasi digital bagi keluarga. Literasi ini tidak hanya mencakup kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga pemahaman tentang risiko dan etika di ruang digital. Orang tua perlu dibekali pengetahuan agar mampu membimbing anak dengan tepat.
Dengan literasi digital yang baik, keluarga dapat menciptakan aturan penggunaan internet yang sehat. Anak diajarkan untuk bertanggung jawab, kritis, dan bijak dalam mengonsumsi informasi. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dibandingkan larangan semata.
Menuju Indonesia Emas dengan Anak yang Terlindungi
Perlindungan anak di ruang digital dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi bangsa. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan digital yang aman akan memiliki fondasi kuat untuk berkembang menjadi generasi unggul. Hal ini sejalan dengan visi besar Indonesia Emas 2045.
Meutya Hafid menyampaikan keyakinannya bahwa penguatan peran perempuan dan keluarga akan menjamin masa depan bangsa. Ketika anak terlindungi, potensi mereka dapat berkembang secara optimal tanpa terhambat risiko digital yang merusak.
Sinergi Keluarga, Negara, dan Masyarakat
Perlindungan anak di era digital membutuhkan sinergi berbagai pihak. Keluarga menjadi benteng pertama, negara hadir melalui regulasi, dan masyarakat berperan dalam menciptakan ekosistem digital yang sehat. Tanpa kerja sama tersebut, upaya perlindungan tidak akan berjalan maksimal.
Menkomdigi menutup pesannya dengan menegaskan bahwa perempuan berdaya dan anak terlindungi merupakan kunci menuju masa depan bangsa yang lebih baik. Dengan komitmen bersama, ruang digital dapat menjadi sarana positif yang mendukung tumbuh kembang generasi penerus Indonesia.

Cek Juga Artikel Dari Platform ketapangnews.web.id
