revisednews.com Hujan deras yang mengguyur wilayah DKI Jakarta menyebabkan genangan di sejumlah titik, mulai dari Kemang Raya, Jati Padang, Pasar Minggu, Cipete Utara, hingga Kuningan Barat. Situasi ini kembali mengingatkan warga bahwa persoalan banjir masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi ibu kota.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyoroti pentingnya pengelolaan waduk dan sistem drainase yang optimal. Salah satu infrastruktur kunci adalah Waduk Pluit di Jakarta Utara. Waduk ini, kata Pramono, berperan penting dalam mempercepat penyusutan air hujan dan menjaga sistem pengaliran agar berfungsi maksimal.
Dengan luas mencapai 80 hektare dan daerah tangkapan air sekitar 2.400 hektare, waduk ini menjadi salah satu titik utama yang menyalurkan aliran air ke laut. Hal tersebut membantu mengurangi risiko genangan berkepanjangan di kawasan padat penduduk.
“Air di Jakarta kini bisa surut lebih cepat karena sistemnya bisa dipantau dan dikoordinasikan dengan lebih baik,” ujar Pramono dalam keterangan resminya.
Banjir, Luka Lama yang Tak Pernah Hilang
Masalah banjir di Jakarta bukanlah hal baru. Fenomena ini sudah terjadi sejak masa kolonial Belanda ketika kota masih bernama Batavia. Saat itu, pusat pemerintahan Hindia Belanda bahkan sempat dipindahkan dari Batavia Lama ke wilayah Weltevreden—sekarang dikenal sebagai kawasan Gambir—karena banjir yang tak terkendali.
Secara geografis, Batavia dibangun di muara Sungai Ciliwung. Wilayah ini merupakan dataran rendah yang sejajar dengan permukaan laut, membuatnya rawan tergenang. Belanda berupaya mengatasi masalah ini dengan membangun kanal-kanal buatan untuk menyalurkan air ke laut.
Namun, seiring waktu, kanal-kanal tersebut mengalami pendangkalan akibat lumpur, sampah, dan sedimen dari hulu sungai. Kondisi ini diperparah oleh urbanisasi tanpa perencanaan yang memadai. Hingga kini, setiap musim hujan tiba, banjir tetap menjadi ancaman klasik.
Luapan sungai, rob, hingga banjir kiriman dari kawasan hulu seperti Bogor kerap membuat Jakarta kewalahan. Sistem drainase yang sudah berumur dan semakin sempit oleh pembangunan permukiman memperburuk keadaan.
Respons Pramono Anung: Dari Pompa Hingga Modifikasi Cuaca
Sejak awal masa kepemimpinannya, Pramono Anung langsung menempatkan penanganan banjir sebagai prioritas utama. Ia menilai, masalah banjir harus ditangani dengan cara terpadu dan berkelanjutan.
Salah satu langkah konkret yang diambil adalah aktivasi pompa dan pintu air di 200 titik strategis, dari total sekitar 500 pompa yang dimiliki DKI Jakarta. Pompa tersebut akan dioperasikan penuh saat curah hujan tinggi.
Selain itu, Pramono menginstruksikan pembukaan pintu air secara terkoordinasi agar aliran dari hulu ke hilir berjalan lancar. Sistem pemantauan digital juga diperkuat agar proses pengendalian bisa dilakukan secara real time melalui pusat komando banjir DKI Jakarta.
Langkah lainnya adalah modifikasi cuaca. Teknologi ini digunakan untuk mengurangi curah hujan di kawasan padat penduduk dan memecah awan hujan sebelum mencapai wilayah kritis. Meski masih tergolong baru dalam konteks penanggulangan banjir perkotaan, metode ini dianggap efektif untuk menekan potensi genangan ekstrem.
Kesiapsiagaan dan Kolaborasi Lintas Wilayah
Pramono juga menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor dan kerja sama dengan wilayah hulu seperti Bogor dan Depok. Ia menyadari bahwa sebagian besar air yang masuk ke Jakarta berasal dari daerah tersebut. Oleh karena itu, pengelolaan banjir tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus bersifat regional dan sistemik.
“Masalah banjir bukan hanya urusan Jakarta, tapi juga daerah-daerah penyangga. Kami perlu sinergi agar sistem aliran sungai dari hulu hingga hilir terkelola dengan baik,” tegasnya.
Untuk memastikan kesiapsiagaan di lapangan, Pramono juga kerap turun langsung meninjau lokasi genangan dan melakukan apel siaga banjir bersama jajaran Pemprov DKI. Ia memastikan seluruh perangkat daerah memahami tugasnya masing-masing, mulai dari BPBD, Dinas Sumber Daya Air, hingga Dinas Perhubungan yang mengatur arus lalu lintas selama bencana terjadi.
Tak hanya itu, ia juga memberikan perhatian pribadi kepada warga terdampak dengan mengunjungi pos pengungsian dan menyalurkan bantuan logistik secara langsung.
Menghadapi Tekanan dan Ekspektasi Publik
Sebagai pemimpin baru di DKI Jakarta, Pramono sadar bahwa tantangan ini bukan hal sederhana. Ia mengakui, persoalan banjir sudah berlangsung selama berabad-abad dan tidak mungkin diselesaikan dalam waktu singkat.
Ia menyebutkan bahwa banyak pihak kerap melakukan penilaian terburu-buru terhadap kinerja pemerintah daerah. Menurutnya, masyarakat harus memahami bahwa penanganan banjir membutuhkan waktu, kolaborasi, dan perubahan sistemik yang menyentuh akar masalah.
“Masalah banjir adalah persoalan multidimensi yang membutuhkan komunikasi, koordinasi, dan kesadaran kolektif. Tidak ada solusi instan,” ujar Pramono.
Tiga Pilar Strategi Penanganan Banjir
Dalam arah kebijakan jangka menengah, Pramono mengusung tiga pilar utama penanganan banjir Jakarta, yaitu:
- Kesiapsiagaan operasional, yang meliputi aktivasi pompa, pintu air, dan peralatan tanggap darurat.
- Pendekatan sistemik hulu-hilir, yaitu penataan sungai, pembangunan waduk resapan, serta kerja sama antarwilayah.
- Kerangka kolaboratif, yang menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat.
Ketiga pilar ini diharapkan menjadi fondasi kebijakan jangka panjang agar Jakarta bisa keluar dari siklus banjir tahunan.
Kesimpulan: Jalan Panjang Menuju Jakarta Bebas Genangan
Banjir adalah masalah klasik yang diwariskan dari masa lalu. Namun, di bawah kepemimpinan Pramono Anung, arah penanganannya mulai menunjukkan perbaikan yang terukur.
Dengan kombinasi kebijakan modern seperti sistem pemantauan digital, modifikasi cuaca, serta pendekatan kolaboratif lintas wilayah, Jakarta perlahan bergerak menuju manajemen air yang lebih berkelanjutan.
Meski jalan menuju Jakarta bebas banjir masih panjang, komitmen dan langkah nyata yang ditempuh pemerintah provinsi menjadi modal penting untuk mewujudkan ibu kota yang lebih tangguh di masa depan.

Cek Juga Artikel Dari Platform dailyinfo.blog
