Savic Ali Tanggapi Konflik Internal PBNU NU Tetap Dijaga Allah dan Tak Perlu Khawatir

Nasional

revisednews.com Konflik di jajaran pimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama kembali menjadi topik besar di ruang publik. Sorotan muncul setelah isu pemakzulan terhadap Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, menyebar ke berbagai media. Situasi ini membuat banyak warga Nahdliyin bertanya-tanya tentang kondisi organisasi. Mereka ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di tubuh NU.

Di tengah meningkatnya keresahan itu, dua tokoh muda NU, yakni Mohamad Syafi’ Alielha atau Savic Ali dan Hasanuddin Ali, buka suara. Keduanya kini berada dalam kepengurusan harian PBNU. Mereka melihat dinamika ini dari dekat. Karena itu, komentar mereka menjadi perhatian banyak pihak.

Savic Ali mengakui bahwa kondisi saat ini cukup mengkhawatirkan. Ia menyebut kurangnya komunikasi terbuka antara Rais Aam dan Ketua Umum sebagai salah satu sumber persoalan. Menurutnya, hubungan dua pucuk pimpinan ini memegang peran penting. Jika komunikasi terhambat, organisasi bisa mengalami kegaduhan internal. Hal inilah yang kini terjadi di PBNU.

Savic Ali: NU Tetap Dijaga Allah, Jangan Terlalu Cemas

Meski mengakui adanya masalah, Savic Ali meminta masyarakat tidak berlebihan dalam merespons konflik ini. Ia menegaskan bahwa NU adalah organisasi besar yang sudah melewati banyak ujian sejak berdiri. NU tetap berdiri kokoh karena ada kekuatan moral yang menjaga organisasi ini. Dalam pandangannya, NU “dijogo Gusti Allah.” Artinya, ada kepercayaan bahwa NU selalu diberi perlindungan dalam menghadapi setiap cobaan.

Pernyataan ini memberi ketenangan kepada warga NU. Banyak dari mereka merasa cemas ketika mendengar kabar pemakzulan. Savic ingin mengingatkan bahwa NU bukan organisasi kecil. Ia memiliki sejarah panjang, tradisi kuat, dan jutaan pengikut yang setia. Karena itu, konflik internal tidak akan membuat organisasi ini runtuh.

Savic juga menyampaikan bahwa dinamika di tingkat elite bukan hal baru. Dalam sejarah NU, gejolak seperti ini pernah terjadi berkali-kali. Namun NU tetap mampu bangkit dan melanjutkan perjuangannya. Ia menyebut bahwa konflik adalah bagian dari proses organisasi. Yang penting adalah bagaimana setiap pihak menyikapinya.

Kurangnya Komunikasi Dianggap Jadi Akar Masalah

Salah satu hal yang paling ditekankan Savic adalah minimnya komunikasi antara dua pemimpin puncak PBNU. Ia menyebut bahwa Ketua Umum dan Rais Aam seharusnya saling berkoordinasi. Mereka memegang mandat penting untuk menjaga arah organisasi. Jika keduanya tidak berada dalam jalur komunikasi yang baik, hal itu bisa menimbulkan kesalahpahaman.

Situasi inilah yang menurut Savic terjadi sekarang. Ada jarak yang membuat dinamika internal makin panas. Tanpa komunikasi yang sehat, berbagai isu mudah berkembang liar. Informasi yang tidak lengkap bisa menyebar dan memperkeruh keadaan.

Hasanuddin Ali juga sependapat dengan pandangan tersebut. Ia menilai kondisi saat ini tidak ideal. Namun ia percaya bahwa masalah ini bisa selesai jika dialog dibuka kembali. Menurutnya, para kiai dan tokoh NU akan selalu menjadi penengah yang bijaksana. Mereka biasa turun tangan ketika organisasi menghadapi situasi sensitif.

NU Organisasi Besar yang Terbiasa Menghadapi Ujian

NU sudah melalui berbagai fase sejarah. Organisasi ini pernah menghadapi perpecahan politik, tekanan sosial, dan dinamika pemerintah dari masa ke masa. Namun NU tetap hidup. Basis masyarakatnya tetap solid. Kekuatan tradisi pesantren dan keilmuan ulama menjadi fondasi organisasi.

Inilah alasan mengapa Savic yakin bahwa konflik saat ini bukan ancaman besar. Ia melihat dinamika ini sebagai bagian dari proses pendewasaan organisasi. Di tubuh NU, perbedaan pandangan adalah hal wajar. Para pemimpin NU terbiasa menyelesaikan perbedaan melalui musyawarah. Karena itu, ia yakin NU akan menemukan jalan keluar.

Menurut pengamat organisasi keagamaan, NU memiliki struktur sosial yang kuat. Pengaruh kiai di berbagai daerah sangat besar. Ketika terjadi konflik elite, jaringan kiai ini biasanya menjadi penyeimbang. Mereka menjaga agar konflik tidak merembet ke akar rumput. Tradisi tabayyun yang kuat juga membuat warga NU tidak mudah terprovokasi.

Harapan untuk PBNU Agar Kembali Solid

Savic menyebut bahwa hal paling penting saat ini adalah membangun kembali komunikasi antara pimpinan. Selama dialog tidak dibuka, situasi akan tetap panas. Ia berharap kedua pucuk pimpinan PBNU bisa segera bertemu. Pertemuan itu diperlukan untuk membicarakan semua isu secara terbuka. Jika dialog kembali terbuka, suasana internal bisa mereda.

Hasanuddin Ali juga percaya bahwa kesolidan PBNU bisa pulih. Ia menegaskan bahwa seluruh pihak harus mengutamakan kepentingan organisasi. NU lebih besar daripada individu. Karena itu, setiap pengurus harus menurunkan ego demi kepentingan bersama.

Savic menutup pernyataannya dengan pesan menenangkan. Ia mengatakan bahwa NU sudah melewati banyak masa sulit. Jika dulu NU bisa bertahan, maka sekarang pun NU akan tetap kuat. Yang diperlukan adalah kebijaksanaan para pemimpin dan ketenangan warga NU.

Penutup: NU Tetap Menjadi Rumah Besar Umat

Konflik internal memang menjadi perhatian besar. Namun NU tetap menjadi organisasi yang matang. Ibarat rumah besar, NU selalu mampu memperbaiki dirinya. Savic Ali ingin mengingatkan bahwa NU bukan milik satu orang. NU adalah rumah jutaan umat. Selama nilai-nilai itu dijaga, organisasi ini akan tetap hidup.

Dengan keyakinan dan komunikasi yang lebih baik, NU diyakini mampu menyelesaikan dinamika ini. Warga NU hanya diminta tenang. Seperti kata Savic, NU “dijogo Gusti Allah.” Karena itu, organisasi ini akan selalu menemukan jalannya sendiri.

Cek Juga Artikel Dari Platform iklanjualbeli.info