revisednews.com Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar, secara resmi membuka acara Indonesia Islamic Finance Summit (IIFS) di Surabaya, Jawa Timur. Acara ini dihadiri oleh jajaran anggota Dewan Komisioner OJK serta pejabat daerah, termasuk Sekretaris Daerah Jawa Timur, Adhy Karyono.
Pembukaan IIFS tahun ini menjadi momentum penting bagi pengembangan industri keuangan syariah nasional. Dengan mengusung tema “Mainstreaming Islamic Finance through Islamic Financial Deepening”, forum ini berfokus pada strategi pendalaman pasar dan penguatan sinergi antar-pemangku kepentingan industri syariah.
Mahendra Siregar dalam sambutannya menegaskan bahwa industri keuangan syariah memiliki potensi besar untuk menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional. “Keuangan syariah bukan hanya alternatif sistem keuangan, tetapi bagian integral dari upaya memperluas literasi dan inklusi keuangan di Indonesia,” ujarnya.
Fokus pada Penguatan Ekosistem Syariah
OJK melalui forum IIFS menekankan pentingnya memperkuat ekosistem keuangan syariah secara menyeluruh. Hal ini mencakup lembaga keuangan, regulasi, sumber daya manusia, hingga produk yang ditawarkan kepada masyarakat.
Dalam sesi diskusi pembukaan, Mahendra menyoroti perlunya sinergi antara lembaga perbankan syariah, industri keuangan non-bank, dan lembaga zakat serta wakaf. Menurutnya, seluruh elemen tersebut harus terhubung dalam satu ekosistem agar keuangan syariah tumbuh berkelanjutan.
Ia menambahkan bahwa dukungan digitalisasi juga menjadi kunci penting. Transformasi digital memungkinkan produk syariah lebih mudah dijangkau masyarakat, terutama di kalangan muda dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Perkembangan teknologi finansial membuka peluang besar bagi layanan syariah untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Namun, pengawasan dan prinsip kepatuhan tetap menjadi prioritas utama,” ujar Mahendra.
Sinergi Pemerintah Daerah dan Pusat
Keterlibatan pemerintah daerah dalam pengembangan keuangan syariah juga menjadi sorotan. Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Adhy Karyono, menyampaikan bahwa pemerintah provinsi berkomitmen mendukung program literasi dan edukasi keuangan syariah melalui kolaborasi dengan lembaga pendidikan, pesantren, dan pelaku usaha lokal.
“Jawa Timur memiliki potensi besar dalam ekonomi syariah, terutama karena keberadaan pesantren dan komunitas usaha halal yang tumbuh pesat. Dukungan dari pemerintah pusat melalui OJK tentu menjadi energi tambahan untuk memperluas dampaknya,” ujar Adhy.
Ia juga menegaskan bahwa pengembangan ekonomi syariah harus selaras dengan upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat, bukan hanya di sektor keuangan formal tetapi juga di sektor riil seperti pertanian, pariwisata halal, dan industri kreatif berbasis syariah.
Peran OJK dalam Arah Baru Keuangan Syariah
OJK sebagai regulator menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat regulasi dan kebijakan yang mendukung pertumbuhan industri keuangan syariah. Dalam beberapa tahun terakhir, OJK telah memperkenalkan berbagai kebijakan seperti roadmap pengembangan perbankan syariah, peningkatan standar tata kelola, serta pembentukan Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) bersama pemerintah pusat.
Mahendra menjelaskan bahwa upaya memperdalam sektor keuangan syariah tidak hanya sebatas memperbanyak produk, tetapi juga memperkuat fondasi industri agar mampu menghadapi dinamika global. “Kita harus memperkuat basis riset, tata kelola, dan inovasi agar keuangan syariah Indonesia mampu bersaing di pasar internasional,” tambahnya.
Selain itu, OJK juga mendorong pengembangan green finance dan social finance berbasis prinsip syariah, yang kini menjadi tren global. Pendekatan ini memungkinkan sektor keuangan syariah berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan tanpa meninggalkan prinsip-prinsip etika dan keadilan sosial.
Meningkatkan Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah
Salah satu fokus utama IIFS adalah peningkatan literasi keuangan syariah. Berdasarkan data OJK, tingkat literasi keuangan syariah di Indonesia masih lebih rendah dibandingkan sektor keuangan konvensional. Untuk itu, perlu upaya kolaboratif agar masyarakat lebih memahami manfaat dan mekanisme produk syariah.
Dalam forum tersebut, OJK bersama mitra industri meluncurkan kampanye edukatif untuk memperluas pemahaman publik tentang investasi halal, asuransi syariah, pembiayaan mikro, dan instrumen wakaf produktif. Program literasi ini ditujukan tidak hanya bagi kalangan profesional, tetapi juga bagi masyarakat umum dan pelajar.
“Literasi adalah pondasi. Tanpa pemahaman, sulit membangun kepercayaan masyarakat terhadap produk keuangan syariah,” ujar Mahendra.
Dukungan Internasional dan Arah Masa Depan
Indonesia Islamic Finance Summit juga menghadirkan pembicara dari luar negeri, termasuk perwakilan Islamic Development Bank (IsDB) dan Bank Pembangunan Asia (ADB). Para narasumber membagikan pandangan mengenai perkembangan pasar keuangan syariah global dan peluang kerja sama lintas negara.
Diskusi yang digelar dalam beberapa sesi juga membahas langkah konkret memperkuat keuangan syariah internasional, seperti integrasi sistem pembayaran halal dan peningkatan investasi lintas batas berbasis prinsip syariah.
Mahendra menyebut, Indonesia memiliki posisi strategis untuk menjadi pusat keuangan syariah di kawasan Asia Tenggara. “Dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan dukungan regulasi yang kuat, kita memiliki potensi menjadi pemain utama dalam industri keuangan syariah global,” katanya optimistis.
Kesimpulan: Sinergi untuk Masa Depan Keuangan Syariah
Pembukaan Indonesia Islamic Finance Summit menandai langkah besar dalam upaya menjadikan keuangan syariah sebagai pilar ekonomi nasional. Melalui kolaborasi antara regulator, pemerintah daerah, industri, dan lembaga internasional, sektor ini diharapkan semakin inklusif dan berdaya saing tinggi.
Dengan dukungan inovasi, literasi, serta regulasi yang solid, Indonesia berpeluang besar menjadi episentrum keuangan syariah dunia. Forum seperti IIFS menjadi panggung strategis untuk memperkuat visi tersebut — menjadikan ekonomi syariah bukan sekadar alternatif, melainkan bagian utama dari masa depan ekonomi Indonesia.

Cek Juga Artikel Dari Platform wikiberita.net
