Bunda PAUD Bukan Sekadar Simbol Seremonial
Ketua Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kota Depok, Siti Barkah Hasanah atau yang akrab disapa Cing Ikah, menegaskan bahwa keberadaan Bunda PAUD bukanlah simbol seremonial semata. Ia menekankan bahwa peran Bunda PAUD justru sangat strategis dalam mengawal kualitas layanan PAUD agar berjalan secara holistik-integratif (HI) dan berkelanjutan.
Pernyataan tersebut disampaikan Cing Ikah saat Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Bunda PAUD Kota Depok yang digelar di Aula Serbaguna Lantai 10 Gedung Dibaleka II. Forum tersebut menjadi ruang konsolidasi penting untuk menyelaraskan arah kebijakan, program, serta kebutuhan riil layanan PAUD di Kota Depok.
Menurut Cing Ikah, Bunda PAUD memiliki posisi penting sebagai penggerak, motivator, dan penguat sinergi lintas sektor. Peran ini mencakup keterlibatan aktif keluarga, satuan PAUD, masyarakat, hingga pemerintah daerah dalam mewujudkan layanan terbaik bagi anak usia dini.
Mengawal Layanan PAUD Holistik-Integratif
Cing Ikah menjelaskan bahwa layanan PAUD holistik-integratif tidak hanya berfokus pada aspek pendidikan semata. Pendekatan ini menekankan keterpaduan antara pendidikan, kesehatan, gizi, pengasuhan, dan perlindungan anak.
Menurutnya, anak usia dini membutuhkan ekosistem tumbuh kembang yang utuh dan saling mendukung. Jika hanya satu aspek yang diperhatikan, maka potensi anak tidak akan berkembang secara optimal.
“Kami ingin memastikan PAUD menjadi ruang tumbuh yang aman, ramah, dan menyenangkan, bukan sekadar tempat belajar membaca dan berhitung,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa layanan PAUD yang berkualitas harus mampu merespons kebutuhan anak sesuai tahapan usia, latar belakang keluarga, serta perkembangan zaman yang terus berubah.
Tantangan PAUD di Era Perubahan
Dalam paparannya, Cing Ikah juga menyoroti sejumlah tantangan besar yang saat ini dihadapi dunia PAUD. Salah satunya adalah implementasi kebijakan wajib belajar 13 tahun, yang menempatkan PAUD sebagai fondasi awal pendidikan formal.
Selain itu, proses transisi dari PAUD ke Sekolah Dasar (SD) juga menjadi perhatian serius. Menurutnya, transisi yang tidak menyenangkan dapat berdampak pada psikologis anak dan menghambat minat belajar di jenjang berikutnya.
“Transisi PAUD ke SD harus dilakukan dengan pendekatan yang menyenangkan, tanpa tekanan akademik berlebihan. Anak harus merasa aman dan percaya diri,” katanya.
Tantangan lain yang tak kalah penting adalah penyesuaian layanan PAUD dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan anak di era digital. Hal ini menuntut satuan PAUD dan pendidik untuk terus beradaptasi tanpa mengabaikan nilai-nilai dasar pengasuhan.
Penguatan Kapasitas Pendidik PAUD
Cing Ikah menegaskan bahwa kualitas layanan PAUD sangat ditentukan oleh kapasitas pendidik. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi pendidik PAUD menjadi agenda penting yang harus terus diperkuat.
Menurutnya, pendidik PAUD tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendamping tumbuh kembang anak. Peran ini membutuhkan pemahaman mendalam tentang psikologi anak, komunikasi empatik, serta kemampuan beradaptasi dengan dinamika sosial.
“Pendidik PAUD harus terus didorong menjadi lebih profesional, kreatif, dan adaptif terhadap perubahan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya memberikan ruang apresiasi bagi praktik baik dan inovasi yang dilakukan oleh pendidik maupun satuan PAUD. Apresiasi tersebut diharapkan dapat memotivasi peningkatan kualitas layanan secara berkelanjutan.
Peran Keluarga sebagai Mitra Utama
Selain pendidik, Cing Ikah menekankan bahwa keluarga memiliki peran yang sangat krusial dalam layanan PAUD. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak, sehingga keterlibatan orang tua tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan anak usia dini.
Ia mengajak orang tua untuk tidak sepenuhnya menyerahkan proses pendidikan kepada satuan PAUD. Menurutnya, sinergi antara keluarga dan lembaga pendidikan akan menciptakan pola pengasuhan yang konsisten dan mendukung perkembangan anak.
“Keluarga adalah mitra utama PAUD. Tanpa keterlibatan keluarga, layanan PAUD tidak akan berjalan optimal,” katanya.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk PAUD Berkualitas
Dalam Musrenbang tersebut, Cing Ikah juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, keberhasilan layanan PAUD tidak dapat dicapai jika masing-masing pihak berjalan sendiri-sendiri.
Sinergi antara pemerintah daerah, Bunda PAUD, satuan pendidikan, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat, hingga dunia usaha dinilai sangat penting dalam menciptakan ekosistem PAUD yang berkelanjutan.
Ia berharap Musrenbang Bunda PAUD tidak hanya menghasilkan rekomendasi administratif, tetapi juga menjadi dasar penguatan kebijakan dan program nyata yang benar-benar berpihak pada kepentingan terbaik anak.
Menuju PAUD Inklusif dan Berkeadilan
Menutup sambutannya, Cing Ikah menegaskan komitmen Bunda PAUD Kota Depok untuk memastikan setiap anak mendapatkan layanan PAUD yang bermutu, inklusif, dan berkeadilan.
Ia menekankan bahwa setiap anak, tanpa terkecuali, memiliki hak yang sama untuk tumbuh sehat, bahagia, dan berkembang sesuai potensinya.
“Kita pastikan PAUD di Kota Depok benar-benar berorientasi pada kepentingan terbaik anak, menjadi fondasi kuat bagi generasi masa depan yang unggul,” tutupnya.
Melalui penguatan peran Bunda PAUD, sinergi lintas sektor, serta komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan, Kota Depok diharapkan mampu menghadirkan layanan PAUD yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga relevan dan berkelanjutan di tengah tantangan zaman.
Baca Juga : PRecious 2025 Hadirkan Kebahagiaan untuk Lansia di Depok
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : wikiberita

