Rusia Kecam Tarif 25 Persen Trump, Dinilai Pemerasan Diplomatik

Uncategorized

Rusia Tolak Kebijakan Tarif Amerika Serikat

Pemerintah Rusia secara terbuka mengecam kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berencana memberlakukan tarif perdagangan sebesar 25 persen terhadap negara-negara yang menjalin hubungan dagang dengan Iran. Moskow menilai langkah tersebut sebagai tindakan sepihak yang bersifat koersif dan melanggar prinsip-prinsip dasar hubungan internasional.

Kecaman ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Rusia memandang kebijakan tarif tersebut bukan sekadar instrumen ekonomi, melainkan alat tekanan politik yang berpotensi memperburuk stabilitas kawasan Timur Tengah dan tatanan internasional secara keseluruhan.

Moskow Sebut Pemerasan Terang-terangan

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menyatakan bahwa ancaman tarif terhadap mitra dagang Iran merupakan bentuk pemerasan diplomatik yang dilakukan secara terbuka. Menurutnya, Washington berupaya memaksa negara lain mengikuti agenda politiknya dengan menggunakan tekanan ekonomi.

Zakharova menegaskan bahwa Rusia menolak keras segala bentuk pemaksaan terhadap negara berdaulat. Ia menilai pendekatan semacam ini justru akan memperdalam ketidakpercayaan antarnegara dan meningkatkan risiko konflik internasional.

Sanksi Barat Dinilai Ilegal

Dalam pernyataannya, Rusia kembali menyoroti sanksi Barat terhadap Iran yang dinilai tidak sah menurut hukum internasional. Moskow berpendapat bahwa sanksi tersebut tidak mendapat legitimasi global dan justru bertentangan dengan prinsip-prinsip Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Rusia menilai sanksi ekonomi yang berkepanjangan sengaja dirancang untuk menghambat pembangunan Iran. Dampaknya, krisis sosial dan ekonomi justru semakin memburuk dan paling dirasakan oleh warga sipil, bukan oleh elite politik yang menjadi sasaran utama kebijakan tersebut.

Tuduhan Strategi Destabilisasi Politik

Zakharova juga menuding kekuatan asing yang memusuhi Iran tengah memanfaatkan situasi ekonomi sulit untuk mendestabilisasi politik domestik negara tersebut. Menurut Rusia, ketegangan sosial yang terjadi saat ini tidak dapat dilepaskan dari tekanan eksternal yang sistematis.

Ia menyebut metode yang digunakan menyerupai strategi “revolusi warna”, yakni upaya mendorong perubahan politik melalui intervensi luar dengan memanfaatkan ketidakpuasan masyarakat. Rusia menilai pendekatan tersebut berbahaya karena berpotensi memicu kekacauan berkepanjangan.

Ancaman Militer Dinilai Tak Dapat Diterima

Selain tarif perdagangan, Rusia juga mengecam keras ancaman serangan militer baru dari Amerika Serikat terhadap Iran. Moskow menilai ancaman tersebut tidak dapat diterima dan bertentangan dengan upaya menjaga perdamaian dunia.

Menurut Rusia, setiap aksi militer terhadap Iran akan membawa konsekuensi serius, tidak hanya bagi kawasan Timur Tengah, tetapi juga bagi keamanan global. Eskalasi konflik dinilai berpotensi memicu reaksi berantai yang sulit dikendalikan.

Latar Belakang Protes Besar di Iran

Pernyataan keras Rusia muncul di tengah gelombang protes besar di Iran. Demonstrasi tersebut dipicu oleh keterpurukan ekonomi yang diperparah oleh jatuhnya nilai tukar rial dan tekanan sanksi internasional. Kondisi ini menciptakan ketegangan sosial yang meluas di berbagai kota.

Pemerintah Iran menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik kerusuhan tersebut. Teheran menilai ada dukungan eksternal terhadap kelompok yang mereka sebut sebagai perusuh bersenjata dengan tujuan memperlemah stabilitas negara.

Data Korban dan Penahanan Massal

Meski pemerintah Iran belum merilis data resmi, lembaga Human Rights Activists News Agency (HRANA) memperkirakan korban tewas telah mencapai sedikitnya 646 orang. Angka tersebut mencakup aparat keamanan maupun pengunjuk rasa.

Selain itu, lebih dari 10.000 orang dilaporkan ditahan di 187 kota di berbagai provinsi Iran. Data ini menggambarkan skala besar krisis sosial yang tengah berlangsung dan menjadi perhatian internasional.

Sikap Rusia terhadap Dialog Iran

Di tengah situasi yang memburuk, Rusia menyatakan bahwa pemerintah Iran tetap berkomitmen membuka ruang dialog konstruktif dengan masyarakatnya. Moskow menilai langkah dialog ini penting untuk meredam dampak sosial dan ekonomi yang dipicu oleh tekanan eksternal.

Rusia menyebut pendekatan dialog jauh lebih efektif dibandingkan tekanan dan sanksi. Menurut Moskow, stabilitas jangka panjang hanya dapat dicapai melalui solusi politik yang inklusif, bukan melalui ancaman ekonomi atau militer.

Dampak Global Kebijakan Tarif Trump

Kebijakan tarif 25 persen yang direncanakan Trump dinilai berpotensi memicu ketegangan baru dalam sistem perdagangan internasional. Negara-negara yang memiliki hubungan dagang dengan Iran berada pada posisi dilematis antara mempertahankan kerja sama ekonomi atau menghadapi tekanan dari Washington.

Rusia memperingatkan bahwa langkah ini dapat mempercepat fragmentasi ekonomi global. Jika negara-negara mulai menggunakan tarif sebagai alat tekanan politik, maka prinsip perdagangan bebas dan kerja sama multilateral akan semakin tergerus.

Peringatan Rusia soal Timur Tengah

Moskow secara khusus memperingatkan bahwa setiap tindakan agresif Amerika Serikat terhadap Iran akan membawa dampak bencana bagi kawasan Timur Tengah. Wilayah tersebut sudah lama dilanda konflik, dan eskalasi baru dikhawatirkan akan memperparah ketidakstabilan.

Rusia menilai bahwa konflik di Timur Tengah tidak dapat diselesaikan melalui tekanan sepihak. Sebaliknya, dibutuhkan pendekatan diplomatik yang menghormati kedaulatan negara dan kepentingan semua pihak.

Ketegangan Geopolitik yang Terus Meningkat

Kecaman Rusia terhadap kebijakan tarif Trump menambah daftar panjang ketegangan antara Moskow dan Washington. Hubungan kedua negara besar ini kerap diwarnai perbedaan pandangan terkait isu keamanan, sanksi ekonomi, dan pengaruh global.

Situasi ini menunjukkan bahwa persaingan geopolitik masih menjadi faktor dominan dalam dinamika internasional. Setiap kebijakan ekonomi besar berpotensi memiliki implikasi politik dan keamanan yang luas.

Menanti Respons Internasional

Kini perhatian tertuju pada respons komunitas internasional terhadap kebijakan tarif Trump dan kecaman Rusia. Banyak pihak menilai bahwa eskalasi retorika dan tekanan ekonomi hanya akan memperkeruh situasi global yang sudah rapuh.

Rusia menegaskan akan terus mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi. Moskow berharap negara-negara lain tidak terjebak dalam tekanan sepihak dan tetap berpegang pada prinsip kerja sama internasional demi menjaga stabilitas dan keamanan dunia.

Baca Juga : BI Nilai Pelemahan Rupiah Awal Tahun Dipicu Sentimen Global

Cek Juga Artikel Dari Platform : wikiberita