Program Gentengisasi Bangkitkan Harapan Pengrajin Genteng Priangan Timur

Uncategorized

Program Gentengisasi yang digagas Presiden Prabowo Subianto mulai membangkitkan semangat para pengrajin genteng tradisional di berbagai daerah. Salah satu wilayah yang merasakan dampaknya adalah Priangan Timur, Jawa Barat, yang dikenal sebagai salah satu sentra pengrajin genteng tanah liat sejak puluhan tahun lalu.

Priangan Timur mencakup sejumlah daerah seperti Kabupaten Banjar, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Garut, Kabupaten Pangandaran, serta Kabupaten dan Kota Tasikmalaya. Di kawasan ini, genteng tanah liat bukan hanya produk bangunan, tetapi juga bagian dari identitas ekonomi rakyat yang diwariskan lintas generasi.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, industri genteng tradisional mengalami tekanan besar. Persaingan dengan material modern, menurunnya permintaan, serta minimnya regenerasi membuat banyak pengrajin satu per satu berhenti. Karena itu, hadirnya Program Gentengisasi menjadi angin segar yang membangkitkan kembali harapan para pelaku usaha kecil.

Nurdin, seorang pengrajin genteng tanah liat asal Kampung Ablok, Kelurahan Sinar Galih, Kecamatan Langensari, Kabupaten Banjar, mengaku program tersebut membuat dirinya kembali bersemangat. Ia menyebut Gentengisasi sebagai “kabar dari surga” bagi pengrajin kecil yang selama ini merasa terpinggirkan.

“Semoga Pak Presiden Prabowo mau memperhatikan pengrajin kecil yang sudah hampir punah ini. Di Langen tinggal satu-satunya saya yang masih bertahan,” kata Nurdin dalam Sarasehan Ekonomi Kerakyatan bertema Dari Tanah Menjadi Atap: Industri Genteng Tradisional Perkuat Kemandirian Ekonomi di Tasikmalaya, dikutip Kamis, 12 Februari 2026.

Pernyataan Nurdin menggambarkan kondisi nyata di lapangan. Banyak sentra genteng yang dahulu ramai kini mulai sepi, bahkan hanya menyisakan segelintir pengrajin yang bertahan. Padahal, industri genteng tradisional memiliki peran penting dalam ekonomi desa, menyerap tenaga kerja, serta menjaga keberlangsungan usaha berbasis sumber daya lokal.

Genteng tanah liat merupakan salah satu produk konstruksi yang dibuat melalui proses panjang. Mulai dari pengolahan tanah, pencetakan, penjemuran, hingga pembakaran dalam tungku tradisional. Proses ini tidak hanya membutuhkan keterampilan, tetapi juga ketekunan dan pengalaman yang diwariskan turun-temurun.

Program Gentengisasi dinilai sebagai langkah strategis untuk menghidupkan kembali industri tersebut. Jika pemerintah mendorong penggunaan genteng lokal dalam proyek pembangunan perumahan rakyat atau fasilitas publik, maka permintaan akan meningkat dan pengrajin kembali memiliki pasar yang jelas.

Selain itu, Gentengisasi juga dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat ekonomi kerakyatan. Industri genteng tradisional tidak dimiliki korporasi besar, melainkan usaha keluarga dan kelompok kecil di desa. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, industri ini dapat menjadi salah satu pilar kemandirian ekonomi daerah.

Priangan Timur sendiri memiliki sejarah panjang dalam produksi genteng tanah liat. Daerah seperti Tasikmalaya dan Banjar dikenal sebagai sentra genteng yang memasok kebutuhan bangunan hingga ke luar Jawa Barat. Namun modernisasi material bangunan seperti atap metal, asbes, atau beton membuat genteng tradisional perlahan tersisih.

Di sisi lain, genteng tanah liat sebenarnya memiliki keunggulan tersendiri. Selain lebih ramah lingkungan, genteng tradisional mampu memberikan kesejukan alami pada rumah, tahan lama, serta memiliki nilai estetika khas arsitektur Nusantara. Karena itu, kebangkitan industri genteng juga dapat dikaitkan dengan pelestarian budaya bangunan lokal.

Sarasehan ekonomi kerakyatan yang digelar di Tasikmalaya menjadi ruang penting bagi para pengrajin untuk menyuarakan aspirasi. Mereka berharap program pemerintah tidak hanya berhenti pada wacana, tetapi benar-benar diwujudkan dalam bentuk dukungan nyata seperti akses modal, pelatihan teknologi produksi, hingga kepastian pasar.

Para pengrajin juga menghadapi tantangan regenerasi. Anak muda di desa banyak yang enggan meneruskan usaha genteng karena dianggap berat dan kurang menjanjikan. Jika program seperti Gentengisasi berhasil mengangkat kembali nilai ekonomi industri ini, maka peluang regenerasi akan terbuka.

Program Gentengisasi juga dapat mendorong inovasi. Pengrajin tradisional dapat dibantu untuk meningkatkan kualitas produksi, desain genteng yang lebih modern, hingga sistem distribusi yang lebih luas. Dengan begitu, genteng tanah liat tidak hanya bertahan sebagai produk tradisional, tetapi mampu bersaing di pasar konstruksi masa kini.

Bagi Nurdin dan para pengrajin lain di Priangan Timur, Gentengisasi bukan sekadar program pembangunan, melainkan simbol harapan. Harapan bahwa industri kecil yang hampir punah masih memiliki masa depan, dan bahwa pemerintah hadir untuk memperhatikan pelaku ekonomi rakyat di akar rumput.

Jika dijalankan secara konsisten, Program Gentengisasi dapat menjadi langkah penting dalam memperkuat ekonomi lokal, menjaga warisan industri tradisional, serta membangun kemandirian ekonomi dari desa.

baca juga : Bina Marga Jaksel Tangani 2.531 Titik Jalan Berlubang hingga Februari 2026

Cek Juga Artikel Dari Platform : petanimal